oleh

Anak dan Dunia Perbandingan

Kotatuban.com – Saat Si Kecil Mulai Merasa Tidak Sama

Kok Cuma aku yang di suruh terus ?
Loh, kakak juga kayak gitu , kok nggak dimarahi ?
Temanku juga belum ngerjain PR !!

Kalimat kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi banyak orang tua, justru kalimat itulah yang paling sering keluar dari mulut si kecil terutama anak bungsu atau mereka yang duduk di bangku sekolah dasar. Anak mulai membandingkan diri, baik dengan saudara, teman, maupun orang dewasa, terutama ketika merasa diperlakukan tidak adil.
Saya pernah mengamati seorang anak laki-laki sebut saja namanya Budi ( bukan nama asli). Usianya 9 tahun, anak ke dua dari dua bersaudara, yang saat ini duduk di kelas 2 SD. Budi adalah anak yang aktif, ceria, dan cerdas. Ia cepat memahami pelajaran, menyukai berhitung, dan mudah bergaul dengan teman-temannya. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sering saya perhatikan: ia kerap membandingkan dirinya dengan orang lain.
Setiap kali diminta belajar, mandi, atau berangkat sekolah, Budi hampir selalu berkata:
Kakak juga belum mandi kok!!
Temenku jam segini juga belum berangkat !!
Sekilas, itu terdengar seperti bentuk pembelaan . Tapi jika dilihat lebih dalam, ini adalah cara anak memahami posisinya di dunia. Mereka sedang belajar tentang aturan, keadilan serta harapan. dan salah satu alat ukur paling alami yang mereka gunakan adalah: perbandingan.

Kenapa Anak Suka Membandingkan Diri?

Di usia sekolah dasar (sekitar 7–11 tahun), anak mulai memasuki fase perkembangan yang dalam teori psikososial Erik Erikson disebut sebagai tahap industry vs. inferiority. Pada tahap ini, anak belajar membangun rasa percaya diri melalui pengalaman sosial, termasuk dari aktivitas, penilaian, dan perbandingan dengan orang lain. Mereka ingin merasa mampu, dihargai, dan setara dengan teman-temannya.

Maka tak heran jika ketika mereka diminta mengerjakan sesuatu, ditegur, atau merasa diperlakukan berbeda, reaksi spontan yang muncul adalah: membandingkan diri. Itu adalah cara mereka mencoba menyeimbangkan logika dalam kepala kecilnya:
Kenapa aku yang disuruh duluan?
Temanku juga ngak dimarahi.
Kakak juga kayak gitu tapi nggak apa-apa.
Di satu sisi, perbandingan ini bisa menjadi bagian dari proses belajar. Tapi di sisi lain, sering kali itu muncul bukan untuk memahami, melainkan sebagai bentuk pembelaan diri. Anak belum sepenuhnya memahami bahwa setiap orang punya peran, kewajiban, dan batasan yang berbeda. Yang mereka tahu hanyalah:
Kalau aku disuruh, kenapa yang lain enggak?

Bagaimana Menyikapinya?

1. Validasi perasaan anak.
Alih-alih langsung bilang ,jangan banding dengan yg lain, coba katakan: adek merasa nggak adil ya? Yuk, bicarakan dengan bunda.
2. Jelaskan aturan secara konsisten.
Kalau anak melihat aturan yang adil dan diterapkan ke semua anggota keluarga, mereka akan lebih mudah menerimanya. Misalnya: Kakak juga punya jadwal belajar, lho. Sama kayak adek.
3. Fokus pada perkembangan diri anak, bukan orang lain.
Alihkan perhatian anak dengan berkata, bunda percaya adek bisa lebih baik dari kemarin, daripada berkata, Temanmu aja bisa, masa kamu nggak?
4. Berikan contoh perbandingan positif.
Ajak anak mengenali perbedaan secara sehat, seperti Kakak suka menggambar, adek jago berhitung. Dua-duanya keren, kan?

Belajar Jadi Diri Sendiri

Membandingkan diri adalah hal yang wajar untuk anak. Bahkan orang dewasa pun sering melakukannya. Namun jika kebiasaan ini terus berkembang tanpa pendampingan yang tepat, bisa muncul dampak yang tidak ringan seperti : rasa tidak puas, iri hati, atau bahkan perasaan rendah diri.
Sebagai pendamping anak baik itu orang tua, guru, kakak, atau siapa pun yang dekat dengan mereka tugas kita bukan menghapus kecenderungan mereka membandingkan diri, melainkan membersamai mereka agar bisa mengenali kelebihan dan proses mereka sendiri. Kita bantu mereka memahami bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing, dan tidak harus sama untuk bisa berharga.
Karena pada dasarnya, anak tidak butuh menjadi seperti orang lain. Mereka hanya perlu tahu bahwa menjadi diri sendiri, dan terus berkembang sesuai kemampuannya, adalah sesuatu yang layak dibanggakan.
Kita juga perlu mengingat satu hal penting: menjadi anak kecil itu tidak mudah. Mereka sedang belajar memahami dunia dan yang lebih sulit lagi, mereka sedang belajar mengenal diri mereka sendiri. Maka ketika mereka membandingkan diri, itu bukan karena mereka membangkang. Itu adalah cara sederhana mereka mencari tempat, pengakuan, dan makna dalam hidupnya yang masih kecil.
Yang mereka butuhkan bukan kemarahan, apalagi dibandingkan balik. Yang mereka butuhkan adalah pendampingan yang sabar, konsisten, dan penuh empati.
Dari sanalah, kepercayaan diri mereka akan tumbuh.
Pelan-pelan. Tapi kokoh, dari dalam.

Mohammad Luthfi Zamroni
Mahasiswa psikologi IAINU TUBAN