kotatuban.com, GRESIK – Atmosfer tak biasa menyelimuti lingkungan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Kabupaten Gresik. Hari ini, Selasa (31/4), serah terima jabatan (Sertijab) Kepala SMA dan SMK kali ini bukan sekadar agenda rutin, ini adalah “peringatan keras” bagi seluruh insan pendidikan, berhenti nyaman, atau siap tergilas perubahan.
Deretan pejabat penting hadir lengkap, mulai dari Kasubbag TU, Kasi SMA-PKPLK, Kasi SMK, para pengawas, hingga seluruh kepala SMA, SMK, PKPLK, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan. Kehadiran total ini bukan tanpa makna, ini adalah sinyal kuat bahwa rotasi jabatan bukan formalitas belaka, melainkan strategi besar untuk mengguncang ritme pendidikan yang dinilai mulai stagnan.
Sorotan tajam tertuju pada pergeseran sejumlah kepala sekolah. Irfan, yang sebelumnya memimpin SMAN 1 Wringinanom, kini “dirotasi” ke SMAN 1 Gresik, menggantikan Ainur Rofiq sebagai pelaksana tugas yang ada disekolah dengan tekanan dan ekspektasi jauh lebih tinggi. Sebuah tantangan yang bukan hanya soal jabatan, tetapi juga pembuktian kapasitas. Posisi yang ditinggalkan langsung diisi Sundawan Argo Sontani, guru dari SMAN 2 Surabaya, yang digadang-gadang membawa “angin segar” sekaligus standar baru.
Di level SMK, rotasi tak kalah dramatis. Darwati berpindah dari SMKN 1 Sidayu ke SMKN 1 Cerme, menggantikan posisi yang sebelumnya hanya diisi pelaksana tugas. Sementara itu, SMKN 1 Sidayu kini dipimpin Arni Sulistyowati, figur baru hasil promosi yang langsung diuji dalam medan kepemimpinan nyata. Ini bukan sekadar promosi, tetapi pertaruhan.
Perubahan juga menutup “era sementara” di SMKN 1 Driyorejo. Nunuk Isdanti resmi ditugaskan sebagai kepala sekolah definitif, mengakhiri masa kepemimpinan pelaksana tugas. Harapannya jelas, tidak ada lagi alasan untuk berjalan di tempat.
Namun, inti dari semua ini bukan sekadar siapa pindah ke mana. Pesan keras datang langsung dari Kepala Cabdindik Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi. Dalam nada tegas, ia menolak keras pola kepemimpinan biasa-biasa saja.
“Jangan jadi kepala sekolah yang hanya duduk di kursi. Jadilah teladan, lakukan mitigasi masalah sejak dini, dan berhenti bekerja ala kadarnya,” tegasnya, menyentak kesadaran seluruh peserta.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal komunikasi dan kepercayaan. Kepala sekolah dituntut bukan hanya pintar mengatur, tetapi juga mampu menggerakkan.
“Kalau tidak inovatif, tidak kreatif, dan tidak mampu menginspirasi, maka siap-siap tertinggal,” lanjutnya, dengan nada yang tak memberi ruang kompromi.
Masih menurut Kacabdindik, Program inovasi, ketahanan pangan dan Gresik Sekolah Resik mohon dijalankan dengan baik, akan kita monitor ke satuan pendidikan dalam waktu dekat,” pungkasnya tegas.
Sertijab ini pun menjelma menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Gresik. Awal April bukan sekadar pergantian bulan, tetapi titik awal ujian bagi para kepala sekolah: menjadi motor perubahan, atau sekadar penonton yang perlahan ditinggalkan zaman.
Di tengah derasnya tuntutan era modern, satu hal menjadi pasti—dunia pendidikan tak lagi memberi ruang bagi mereka yang enggan berubah. Di Gresik, pesan itu kini disampaikan tanpa basa-basi: bergerak cepat, atau tersingkir.(JS)






