kotatuban.com – Malam mulai turun di Dukuh Guwo Lampes, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Sabtu (2/8/2025). Di tengah suasana yang sederhana namun hangat, ratusan orang berkumpul. Mereka tak hanya datang untuk merayakan usia, tetapi menyaksikan bagaimana sebuah cita-cita kecil yang dulu hanya berupa niat, kini menjelma menjadi gerakan dakwah yang membumi—El Faaza.
Tujuh tahun bukan waktu yang panjang, tapi cukup bagi sebuah majelis taklim untuk menancapkan akar, tumbuh, dan berbuah. Mengangkat tema Pituture Ati Lumantar Seni, El Faaza menegaskan jalannya sendiri: dakwah yang lembut, menyentuh hati, dan menyapa jiwa manusia melalui keindahan seni.
Di hadapan jamaah dan tamu undangan, Ketua Majelis El Faaza, Kusumo Hadi Santoso, M.Pd., mengumumkan bahwa El Faaza kini telah mengantongi legalitas resmi dari Kementerian Agama Kabupaten Tuban sejak 24 Juli 2024. Bagi Kusumo, ini bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan penegasan bahwa jalan yang mereka tempuh selama ini benar adanya.
“Sejak awal, kami ingin El Faaza hadir bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi menjadi rumah belajar, tempat tumbuh, dan jembatan harapan bagi banyak orang,” ucap Kusumo, dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan.
El Faaza sejak awal berdiri memilih jalur yang tak biasa—menggabungkan dakwah dan seni dalam satu ruang yang inklusif. Lantunan sholawat, pertunjukan Islami, dan kegiatan sosial menjadi cara mereka merangkul masyarakat, terutama generasi muda yang haus akan makna tetapi enggan pada dogma.
“Lewat seni, nilai-nilai Islam bisa dirasakan, bukan sekadar diajarkan. Di situ kami merasa peran kami menemukan relevansinya,” lanjut Kusumo.
Bukan hanya spiritualitas yang dibangun. El Faaza juga mempersiapkan masa depan generasi dengan menggulirkan program beasiswa pendidikan. Bekerja sama dengan Universitas Sunan Gresik dan Kementerian Agama, beasiswa ini memberikan pembiayaan penuh hingga lulus, lengkap dengan uang saku bulanan, bagi pelajar kurang mampu namun berprestasi.
“Pendidikan adalah cahaya yang kami ingin nyalakan. Pendaftaran masih dibuka hingga 30 Agustus 2025. Kami berharap kesempatan ini bisa menjadi pijakan untuk mereka yang selama ini ragu melangkah,” ujarnya.
Pengasuh El Faaza, Kasmolan, S.Pd.I., menambahkan bahwa El Faaza merupakan wujud dari visi dakwah yang selama ini ingin menyapa umat dengan cara yang lebih membumi.
“El Faaza adalah sebuah visi yang jadi kenyataan. Sejak awal kami percaya, dakwah tak harus tinggi di langit. Ia bisa merunduk rendah, menyapa lewat sholawat, lewat seni, lewat kebersamaan. Alhamdulillah, masyarakat menerimanya dengan hangat. Semoga capaian ini terus meningkat,” ucap Kasmolan dengan mata berkaca.
Malam itu, hadir pula tokoh-tokoh penting yang telah menyertai perjalanan El Faaza. KRMP. Aflakha Mangkunegara Hadiningrat, SH selaku penasehat , para masyayikh, Kepala Desa Bektiharjo, unsur TNI-Polri, serta para pegiat seni turut larut dalam suasana spiritual yang syahdu.
Di tengah gelap malam Guwo Lampes yang bersahaja, sholawat terus mengalun. Tak sekadar lagu pujian, tapi gema niat baik yang tak pernah padam. Dari tempat yang mungkin tak banyak disebut dalam peta, El Faaza membuktikan bahwa gerakan perubahan bisa lahir dari niat yang tulus dan langkah yang konsisten.
Majelis taklim dan sholawat ini kini bukan lagi sekadar ruang belajar agama, tetapi titik temu antara iman, ilmu, dan harapan. Dan dari sanalah, cahaya-cahaya kecil mulai bergerak menerangi masa depan. (@chonk)






