oleh

Era AI, RPS Ajak Mahasiswa Fahami Konten Hoaks

Kotatuban.com – Era artificial intelligence (AI) menjadikan informasi yang beredar di media sosial begitu deras. Karena derasnya informasi tersebut, sering terjadi informasi yang diterima masyarakat adalah informasi yang bias, bahkan hoaks dan informasi bohong. Karena itu, masyarakat dimint untuk waspada.

‘’Karena itu kami mengajak para mahasiswa yang merupakan agen perubahan untuk faham hal ini. Mahasiswa dan masyarakat harus mengembangkan sikap jurnalistik saat menerima informasi-informasi tersebut,’’ ujar Edy Purnomo, salah satu narasumber dalam pelatihan Jurnalisme Kekinian.

Pelatihan ini digelar oleh Ronggolawe Press Solidarity (RPS) di di kampus Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama (IIKNU), Senin (1/12/2025). Pelatihan kedua ini diikuti para mahasiswa dari IIKNU, Unirow dan STIE Muhammadiyah Tuban.

Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor 3 IIKNU Tri Yunita Fitria Damayanti STR.Keb Mkes ini didukung oleh PT SBI, Pertamina Patra Niaga Jatim Balinus, PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-Awar, Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) dan Pupuk Indonesia.

Edy menyebut, dalam era AI ini, banyak konten palsu yang tertebaran di media sosial. Jika tidak diwaspadai, konten-konten tersebut bisa membahayakan. Sebab, konten palsu berbasis AI seperti konten asli. Konten palsu kini tidak lagi tampak kasar. Teknologi seperti deepfake, voice cloning, dan AI generated text membuat manipulasi informasi seolah riil.

‘’Konten terlihat sangat realistis, dapat dibuat dalam hitungan menit, dan disebarkan secara masif melalui media sosial,’’ terangnya.

Dampak terbesarnya dari konten palsu, lanjut Edy, bisa membuat reputasi seseorang dapat hancur sebelum ia memiliki kesempatan untuk memberikan klarifikasi. Bentuk konten palsu yang sering mengancam kredibilitas itu di antaranya video deepfake, yakni meniru wajah atau suara seseorang. Kemudian gambar rekayasa dengan menempatkan subjek dalam situasi yang tidak pernah terjadi.

Kemudiaan audio palsu yakni suara yang dibuat menyerupai individu tertentu serta teks palsu berupa percakapan, pesan, atau artikel yang dibuat untuk membangun narasi negatif. Bagi jurnalis muda, bahkan masyarakat pada umumnya, konten-konten seperti ini dapat menjerumuskan apabila dijadikan dasar liputan atau ditelan begitu saja tanpa proses verifikasi.

‘’Mengapa konten palsu berbasis AI sangat berbahaya? Karena sulit dibedakan dari konten asli, lebih cepat viral dibandingkan klarifikasinya, rirancang untuk memicu emosi publik agar percaya seketika, sering dibuat dan disebarkan oleh akun anonim,’’ bebernya.

Karen itu, jurnalis atau masyarakat harus terus menghidupkan sikap jurnalistik. Bagi jurnalis bisa melakukan verifikasi sebagai refleksi kerja. Bisa menggunakan metode dan alat seperti; reverse image search, pemeriksaan metadata, konfirmasi kepada sumber utama, dan perbandingan informasi antar-media yang kredibel.

‘’Aturan umumnya adala jika tidak dapat diverifikasi, jangan dipublikasikan,’’ katanya.

Jurnalis atau masyarakat harus bersikap skeptis terhadap konten emosional. Misalnya ketika menemukan konten yang tampak terlalu dramatis, maka ajukan pertanyaan apakah ini masuk akal, apa bukti pendukungnya, siapa yang pertama kali mengunggahnya dan sebagainya.

‘’Karena sikap skeptis merupakan bentuk perlindungan profesional,’’ tandasnya. (duc)