oleh

Gebrakan Gresik! Anak Berkebutuhan Khusus Tak Lagi Dipinggirkan, Pemkab Tancap Gas Hapus Stigma

kotatuban.com. GRESIK – Gresik benar-benar tak main-main. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik kini menunjukkan taringnya dalam memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, bukan sekadar wacana, tapi aksi nyata yang mulai terasa dampaknya.

Momentum Hari Peduli Autisme Sedunia 2026 menjadi panggung gebrakan itu. Lewat gerakan Akses Nyata Gerakan Kesehatan Anak Spektrum Autisme (ANGKASA) di Gressmall Gresik, Kamis (2/4/2026), pesan kuat dilontarkan: Gresik tidak lagi menoleransi diskriminasi!

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani atau yang akrab disapa Gus Yani, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lagi sekadar “mendengar dari jauh”. Kini, mereka turun langsung menyerap suara anak-anak istimewa, sekolah, hingga wali murid.

“Pemkab hadir, bukan hanya melihat tapi memastikan kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi,” tegasnya.

Tak berhenti di seremoni, langkah konkret langsung digas. Sekolah-sekolah umum didorong wajib “naik level” dengan pelatihan khusus bagi guru agar mampu menghadapi anak berkebutuhan khusus secara tepat mulai dari mengelola emosi, membangun kemandirian, hingga mengasah kemampuan sosial.

Ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini adalah peringatan keras: sekolah tak boleh lagi gagap menghadapi anak inklusif!

Lebih tajam lagi, Gus Yani menyoroti isu sensitif yang selama ini sering diabaikan—bullying. Ia mengajak masyarakat Gresik untuk berhenti memberi label negatif pada anak autis.

“Penerimaan tanpa syarat itu wajib. Bukan pilihan,” pesannya lugas.

Sinyal keseriusan itu diperkuat dengan hadirnya Unit Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yang kini menyediakan layanan lengkap dari terapi hingga penjemputan gratis. Ini bukti: negara hadir sampai ke hal paling teknis.

Momen paling menyentuh terjadi saat Gus Yani turun langsung membuka parade anak inklusif, berjalan bersama mereka mengelilingi atrium Gressmall. Bukan simbolik, ini pesan kuat bahwa mereka tidak sendiri.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Gresik, S. Hariyanto, mengungkap fakta yang tak bisa diabaikan: jumlah anak berkebutuhan khusus di Gresik terus meningkat. Sekitar 100 anak ikut dalam peringatan tahun ini.

“Sekolah tidak boleh menolak. Titik! Semua harus diterima dan difasilitasi,” tegasnya, tanpa kompromi.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, melalui Kasi SMA-PKPLK, menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut. Hal ini dikarenakan beliau tengah menghadiri agenda lain yang sama pentingnya di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Meski demikian, komitmen tetap ditegaskan Kasi SMA-PKPLK mengingatkan bahwa tanggung jawab terhadap anak-anak berkebutuhan khusus tidak bisa ditawar. Kolaborasi lintas sektoral, Dindik Kabupaten Gresik dan Cabdindik Wilayah Kabupaten Gresik, beserta UPT ABK Kabupaten Gresik harus benar-benar komitmen.

“Ini tugas kita semua. Tidak boleh setengah hati” ujarnya.

Ia juga menyoroti kunci utama keberhasilan: kesabaran dan konsistensi. Bahkan, inovasi seperti kelas industri di sekolah, termasuk SLB, mulai didorong agar anak-anak ini tidak hanya diterima, tapi juga siap bersaing di dunia kerja.

Masih kata Kasi SMA-PKPLK, Minggu depan kami akan ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan industri, PT Indobismar yang langsung menghadirkan kepala sekolah SLB di Surabaya.

Gerakan ini membawa lima misi besar: menggugah kesadaran, mendorong inklusi sosial, memperjuangkan hak asasi, memperkuat deteksi dini, dan merayakan keunikan setiap anak.

Tak hanya soal pendidikan, masa depan anak-anak ini juga jadi perhatian serius. Harapan besar digaungkan bahwa mereka harus punya peluang kerja yang setara, baik di sektor pemerintah maupun swasta.(JS)