Pemasaran Digital Mulai Geser Pola Lama, Pelaku Batik Lokal Didorong Masuk ke Pasar Global
kotatuban.com – Pemerintah Kabupaten Tuban kembali menaruh perhatian besar pada keberlanjutan batik dan tenun Gedog, salah satu identitas budaya Bumi Wali yang selama ini hidup di lingkar rumah-rumah para perempuan pengrajin. Melalui program Sepatu Kaca 2025, yang digelar mulai Senin–Rabu, 24–26 November 2025, Pemkab tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga memperkenalkan pola pemasaran digital sebagai jalur baru agar batik lokal dapat bertahan dan bersaing di pasar yang berubah cepat.
Berbeda dari program-program sebelumnya yang lebih menonjolkan peningkatan produksi, Sepatu Kaca 2025 kali ini menargetkan perubahan cara pandang pelaku batik terhadap pasar modern. Para peserta yang mayoritas perempuan pembatik dari berbagai kecamatan, dilatih memahami preferensi konsumen digital, penggunaan media sosial sebagai etalase produk, hingga strategi sederhana menciptakan konten visual yang menarik.
Kepala Dinsos P3A dan PMD Tuban, Sugeng Purnomo, dalam sesi diskusi yang berlangsung pada Selasa, 25 November 2025, menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya upaya menaikkan omzet, tetapi memastikan tradisi membatik tetap relevan bagi generasi penerus. “Kalau pemasaran masih bergantung pada pameran musiman, lama-lama batik hanya tinggal cerita. Digital bukan pilihan, ini keharusan,” tegasnya.
Kebutuhan ini selaras dengan realitas lapangan. Selama ini, penjualan batik Gedog masih bergantung pada pembeli yang datang langsung atau jaringan reseller terbatas. Melalui Sepatu Kaca 2025, Pemkab berupaya mempertemukan tradisi tua dengan ekosistem digital yang membuka peluang penjualan ke luar daerah, bahkan lintas negara.
Beberapa peserta mengakui bahwa tantangan terbesar justru bukan pada proses membatik yang notabene sudah mereka kuasai bertahun-tahun, tetapi pada ritme pemasaran daring. “Saya baru tahu kalau foto produk itu penting sekali. Warna harus jelas, latar bagus, dan ada cerita di balik motif. Selama ini kami hanya mengirim foto apa adanya. Ternyata tidak cukup,” ungkap Siti, pembatik asal Kecamatan Kerek, pada hari terakhir pelatihan, Rabu, 26 November 2025.
Selain memperkuat kapasitas digital, Sepatu Kaca juga diberi sentuhan pemberdayaan sosial. Pemkab menyisipkan materi manajemen usaha, penguatan mental perempuan, hingga edukasi perlindungan anak sebagai bagian dari pembentukan keluarga yang lebih resilien—suatu pendekatan yang jarang disentuh dalam program ekonomi konvensional.
Meski demikian, beberapa tantangan masih menanti. Tidak sedikit pelaku batik yang belum memiliki peralatan memadai, seperti kamera yang layak atau koneksi internet stabil. Pemerintah mengakui pendampingan berkelanjutan diperlukan agar program ini tidak berhenti sebagai workshop semata.
Namun langkah Pemkab Tuban melalui Sepatu Kaca 2025 memberi sinyal kuat bahwa masa depan batik Gedog tidak hanya bergantung pada keindahan motif dan kekuatan tradisi, melainkan juga keberanian para pelakunya beradaptasi dengan teknologi. Jika perubahan perilaku pemasaran ini berhasil mengakar, batik Tuban memiliki peluang besar memasuki pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas budayanya.
Program yang awalnya dipandang sebagai ruang belajar perempuan kini berkembang menjadi jembatan antara warisan budaya dan ekonomi digital—sebuah kombinasi yang pelan namun pasti memperkuat regenerasi pembatik Tuban menghadapi masa depan. (co)





