kotatuban.com – Saat sebagian besar masyarakat tengah bersiap menyambut detik-detik pergantian tahun dengan suara kembang api dan gemuruh tiupan terompet, suasana di Desa Kinanti, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban pada akhir Desember 2025 justru terasa tenang dan reflektif. Di sebuah ruang seni bernama Shankara Tuban, sekelompok pemuda dan seniman mempersembahkan pertunjukan yang tak biasa: Soundtoloyo — sebuah kolaborasi seni budaya antara Indonesia dan Jepang yang menghubungkan tradisi, narasi, dan ekspresi artistik dalam bentuk yang tidak lazim.
Prewhangan, komunitas kreatif di balik Soundtoloyo, sengaja memilih format ini sebagai alternatif selebrasi tahun baru. Mereka menghindari kebisingan selebrasi populer yang bersifat konsumtif, dan justru mengajak penonton untuk memasuki ruang seni yang lebih intim, kolaboratif, dan reflektif. “Kami ingin mengajak masyarakat memaknai transisi waktu tidak hanya sebagai perayaan, tapi sebagai perhentian untuk mendengarkan dan memahami, baik diri sendiri maupun budaya lain,” ujar salah satu penyelenggara dari Prewangan dalam sesi percakapan sebelum pentas dimulai.
Panggung Soundtoloyo dibuka oleh Sakana–Kani, sebuah kolaborasi unik antara seniman Tuban, Toyol Dolanan Nuklir, dengan seniman Jepang dari Kyoto, Yukari Ono. Mereka tampil mengenakan kostum yang tidak sekadar menarik visual, tetapi juga mencerminkan persimpangan budaya: Toyol memadukan udeng khas Tengger dan motif pakaian Toraja, sementara Yukari memilih kimono tradisional Jepang sebagai simbol keterbukaan terhadap dialog budaya.
Yang membuat penampilan ini semakin khas adalah cara kedua seniman menggabungkan musik dengan ritual. Yukari memandu ritual Chanoyu — tradisi minum teh Jepang yang sarat filosofi tentang kesederhanaan dan kesetaraan. Teh yang disajikan di atas panggung bukan sekadar minuman, tetapi ritual kontemplatif yang menjadi titik temu estetika antara suasana panggung dan intuisi penonton. Dalam pertunjukan tersebut, Toyol memainkan alat musik ciptaannya sendiri yang terinspirasi dari biwa Jepang dan gambus Nusantara, sambil menyanyikan nyanyian yang mengalir dari ekspresi tubuh dan suara.
“Saya ingin musik bukan sekadar terdengar, tetapi menjadi pengalaman yang dirasakan oleh tubuh dan pikiran sekaligus,” kata Toyol kepada beberapa penonton yang berdiri dekat panggung. Ia menambahkan bahwa alat musik yang digunakannya dirancang untuk menyatukan dua dunia budaya: Jepang dan Indonesia, dengan cara yang sangat pribadi dan eksperimental.
Penonton yang hadir mengalami pertunjukan ini bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa bersama. Suasana yang khidmat, sekaligus improviasi musikal yang tak dapat diprediksi, membuat banyak penonton merasa dirangkul untuk ikut memaknai setiap momen. Menurut seorang penikmat seni yang menyaksikan langsung, “Ini bukan pertunjukan biasa. Ada sensasi dialog batin yang terjadi selama acara — seperti tengah ‘berbicara’ dengan seni itu sendiri.”
Selain Sakana–Kani, Soundtoloyo juga menampilkan musisi lain seperti Kona Eguchi, InsyaAllah Noise × Babiteng, Sandaria, dan Hewodn. Mereka masing-masing menghadirkan suara dan estetika berbeda, mulai dari musik eksperimental hingga suara yang lebih ritmis dan improvisatif. Kolaborasi ini menjadi ruang bagi para penampil untuk saling memadukan inspirasi budaya mereka, tanpa hierarki panggung yang kaku: posisi penonton dan pemain hampir sejajar, sehingga interaksi menjadi lebih organik dan cair.
Dalam fragmen penampilan yang lain, sambil memainkan musik, beberapa seniman mengeksplorasi makna simbolik yang lebih dalam tentang identitas, ruang, dan waktu. Mereka melihat seni bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai bahasa persatuan yang mampu menyatukan pengalaman sosial dan kultural lintas batas negara. “Soundtoloyo mengajarkan kami bahwa ketika dua dunia budaya bertemu, mereka tidak perlu saling meniadakan, tetapi bisa saling memperkaya,” ungkap seorang pengunjung yang juga adalah pelaku seni lokal Tuban.
Eksperimen estetika ini sekaligus mempertegas peran seni sebagai alat dialog antarbudaya. Di Tuban, yang sering lebih dikenal sebagai kota pesisir dengan aktivitas ekonomi dan industri yang kuat, Soundtoloyo menunjukkan wajah seni yang belum banyak terekspos: seni sebagai ruang refleksi kolektif. Pertunjukan ini tidak hanya membuka mata terhadap keindahan, tetapi juga mengajak masyarakat mempertanyakan bagaimana suara budaya lain dapat berdialog dengan budaya lokal tanpa dominasi atau stereotip.
Akhirnya, Soundtoloyo bukan sekadar peristiwa seni tahunan. Ia adalah pernyataan baru tentang bagaimana seni kontemporer dapat membawa kekayaan tradisi ke panggung dialog global, tanpa kehilangan akar budaya masing-masing. Ketika malam puncak berlalu dan lampu panggung meredup, pesan terpenting yang tersisa mungkin bukanlah suara instrumen atau tepuk tangan, melainkan pengalaman berbagi ruang batin yang tertanam dalam ingatan setiap penonton. (co)




