cerita asli, fakta, gak ngarang
Oleh : Trawoco Hadikusumo *
Beberapa minggu terakhir, kabar tentang motor-motor yang mendadak “batuk pilek” terdengar dari segala arah. Ada yang batuknya halus, cuma mbrebet dikit. Ada yang batuknya parah: nyeret, ngos-ngosan, lalu mogok total di pinggir jalan. Lokasinya beragam : Tuban, Bojonegoro, Surabaya, Gresik, Lamongan, dan entah manalagi. Kalau dicermati, peta kejadiannya terlihat seperti titik-titik wabah yang menyebar. Satu hal yang pasti: ini bukan cerita horor, tapi jika terus diabaikan, bisa jadi horor beneran.
Publik pun dibuat bingung. Pabrikan motor? Ah, motor-motor itu selama ini sehat walafiat, dari Sabang sampai Merauke. Tak punya riwayat penyakit bawaan. Lalu tiba-tiba mbrebet, mogok, dalam waktu hampir berbarengan, massal pula, semua mendadak bereaksi , panik berjamaah. Tidak masuk akal menyebut ini sebagai “cacat pabrik”.
Maka publik pun menaruh curiga pada satu-satunya variabel yang layak dijadikan tersangka : kualitas BBM. Terutama Pertalite, meski kabarnya Pertamax pun tak aman dari sikap sinis publik. Apakah ada yang janggal? Apakah ada yang tercampur? Apakah standar mutu sedang menurun? Namun, seperti biasa, begitu Pertamina menurunkan tim investigasi, jawabannya: sudah sesuai spesifikasi, memenuhi SNI dan standar internal, tidak ada masalah. Kalau perlu, mereka tambahkan satu kalimat penuh kepercayaan diri: semua sesuai standart dan prosedur yang berlaku. Hadeuhh.
Di titik ini, publik hanya bisa tersenyum tipis. Senyum yang artinya: “Oh, ya? Begitu?” Sebab rakyat kita sudah terlalu sering diberi kabar baik untuk kenyataan yang buruk. Bahkan ketika semua indikator di lapangan menunjukkan masalah, laporan resmi tetap menyodorkan laporan semuanya baik-baik saja. tidak ada masalah.
Masalahnya sederhana: kalau investigasi itu berani jujur dan menyatakan ada penurunan kualitas BBM, misalnya; maka risikonya besar. Pertamina akan digeruduk publik, dipaksa menjelaskan, mempertanggungjawabkan, bahkan hancur reputasi Perusahaan. Selesai? Belum. Tuntunan untuk audit besar-besaran. Ngeri kan? Itu sama saja bunuh diri. Maka wajar jika apa pun yang terjadi, kesimpulannya tetap: tidak ada yang salah, semua sudah sesuai prosedur.
Padahal, di jalanan, kisah orang-orang apes karena motornya mogok tidak bisa disepikan begitu saja.
Dua hari lalu, sepulang dari mengunjungi anak mbarep kuliah di Kediri, saya berhenti di sebuah musholla kecil untuk Magrib. Waktu itu sekitar pukul 18.15. Ada sepasang anak muda—cowok cewek—yang sedang istirahat dan telah selesai shalat. Tampak duduk sambil sibuk komunikasi lewat HP. Setelah saling angguk, saya tanya, “Dari mana, Mas?”
“Dari Trawas, Pak,” katanya.
“Aslinya mana?”
“ Dari Plumpang – Tuban Pak.” Jawabnya. Oh, podho Tubane, pikirku.
Ia kemudian bercerita: motornya mogok total. Mulai mbrebet dari daerah Tapen, Jombang. Ia paksakan jalan, mogok. Paksakan lagi, mogok lagi. Sampai di jalur tanjakan hutan—yang jalannya saja bikin iman goyah, sereemm, motornya mogok tiap 50 meter. Bayangkan, tiap 50 meter berhenti, dorong, hidupkan, mati lagi. “Pokoknya saya paksa hidupkan pak. Saya cemas. Takut. Soalnya tengah hutan, nanjak lagi. Tak paksa jalan meski tersendat-sendat. Pas deket musholla, mogok total,” katanya, dengan nada yang bahkan membuat saya ikut capek. Bayangkan, mereka pakai PCX hitam yang besar dan bongsor itu, gak mungkin kan didorong oleh si cowok yang perawakannya langsing itu.
Untung mogoknya deket musholla. Ia lalu memarkir motornya ke halaman musholla, istirahat, sholat magrib dan lalu menghubungi temannya di Tuban minta bantuan.
Musholla tempat kami sholat magrib itu terletak di Ngimbang luar, masih sangat jauh dari Tuban. Beruntung temannya gercep dan berjanji membawakan montir. Waktu aku pamit, posisi sejoli itu sedang menunggu sang montir yang masih dalam perjalanan. Untungnya lagi ceweknya sabar. Coba kalau tidak. Mungkin sudah pecah perang dunia di pinggir hutan itu.
Sekarang bayangkan kalau Anda mengalami mogok total di tengah hutan. Sinyal lemah, jalan menanjak, hujan turun, plus ada yang ketawa ngakak di atas pohon, hiii…. lengkap sudah penderitaan. Lak nangis ora metu luhe. Dan apa sebabnya? BBM yang kualitasnya menurun. Entah karena apa, ulah siapa, di mana, dan caranya bagaimana. Embuh wis.
Rasanya kita semua sepakat: ada yang tidak beres. Dan ketika ada ribuan kasus serupa dari banyak daerah, maka penjelasan : “Ini bukan faktor kualitas BBM”, menjadi sulit dipercaya. Rakyat kita mungkin sederhana, tapi tidak bodoh.
Saya hanya ingin mengingatkan satu hal kepada para pejabat, terutama yang diberi mandat menjaga kualitas BBM: rakyat ini hanya minta kejujuran dan pelayanan yang baik dan layak. Bukan pidato, bukan klarifikasi yang kalimatnya berputar-putar. Kalau memang ada yang keliru, benahi. Tidak perlu malu. Nilai sebuah institusi justru terlihat dari keberaniannya mengakui ketika ada yang salah, bukan dari kepandaiannya menutupi masalah. Dan kalau ada oknum yang bermain di hulu, tengah maupun hilir, ya ditindak. Jangan rakyat yang diminta maklum terus menerus.
Jika gak mau berbenah dan memperbaiki diri, tak dungakno mobil atau motor yang dinaiki pejabat-pejabat itu suatu saat mogok di tengah hutan, adoh lor-kidul, sinyal sulit, jalan nanjak, turun hujan lebat dan banyak hantunya. Biar kapok. Biar merasakan apa yang dialami masyarakat. Biar gak main-main dengan nasib rakyat. Peace. [*]
*. Pemerhati Sosial



